Menjadi Cerdas (Suatu Tuntutan Demokrasi)

Hari – hari kebelakang seolah Indonesia berubah menjadi tempat yang menyeramkan dan menakutkan. Bagaimana tidak, pemberitaan baik di media televisi ataupun media online berisi tentang hal – hal yang bagi generasi kita hari ini merupakan bukan hal yang wajar. Di bidang sosial, kita tahu bagaimana ada seorang anak SD yang dianiaya kawannya sampai meninggal hanya karena ia menjatuhkan makanan kakak kelasnya secara tidak sengaja, belum lagi maraknya kasus – kasus kejahatan seksual terhadap anak baik yang ada di Jakarta beberapa waktu lalu ataupun pemberitaan di Sukabumi yang sampai hari ini kasusnya masih berjalan. Terakhir adalah tindakan  intoleransi yang terjsdi di jogja.
Hari ini, khususnya di bidang politik dan kenegaraan, kita dapat melihat bagaimana dinamisasi menjelang pilpres seolah memecah cinta indonesia menjadi dua kubu, banyaknya saling sindir dan banyaknya saling menjatuhkan, dan ironisnya hal itu terjadi dalam tataran grass root yang mana kelompok grass root bisa jadi merupakan kelompok non-partisan yang opini dan pola pikirnya dibentuk oleh media. Berbeda dengan para eliters yang secara resmi memang bersaing merebut simpati rakyat, mereka terlihat saling berpelukan, saling berjabat tangan dan juga saling menebar senyum satu sama lain.
Kita hari ini dihadapkan dalam dunia yang sangat berbeda bila dibandingkan sewaktu kita kecil dulu kawan, hari ini ruang apatisme lebih dominan mewarnai pola pikir kita dibandingkan untuk turun langsung berkontribusi menjadi orang yang memelihara rasa ideal ditengah dominannya kehidupan yang pragmatis hari ini. Sering saya berdiskusi dengan kawan yang lainnya bahwa hari ini kita hidup dimana ada seorang hampir tanpa aktualisasi pancasila. Ia hidup berdasarkan gaya yang berkembang, berdasarkan idiologi yang berkembang, pancasila hanya menjadi pajangan di ruang2 kelas yang mungkin lupa dibersihkan dari debu. Teringat ketika soekarno memberikan pidato di hadapan PBB tentang inti dari ajaran pancasila. Soekarno menjelaskan bahwa sila pertama adalah tentang believe in god, kedua tentang humanity, ketiga tentang nationalism, ke empat tentang democracy, kelima adalah tentang social justice.
Dalam era demokrasi hari ini kita dituntut cerdas untu menentukan pilihan didasarkan pada asas-asas pancasila. Tidak lagi terdikotomi oleh pemberitaan media yang kadang tidak berimbang dan seolah menggiring opini pembaca. Jangan sampai demokrasi ini hanya permainan para mereka saja yang ingin berkuasa tanpa memperhatikan bangsa dan negara. Tapi jadikanlah ajang demokrasi ini sebagai ajang pencerdasan bagi kita supaya tidak hanya bergantung pada media dan opini menyesatkan semata.

Handika Suryo Syaiful, S.H.
Pascasarjana Magister Hukum

Posted in Tak Berkategori.

Kembali (menulis)

Lama sudah tidak lagi menuangkan isi pikiran – pikiran yang ada dalam narasi tulisan di laman ini. Suatu diskursus antara kesibukan studi dan juga tersitanya pemikiran terhadap hal – hal lain yang membuat seolah – olah sedikit sulit untuk dapat mengalirkan ide – ide kembali dalam bentuk narasi tulisan. Bukan karena ketidakmampuan, melainkan ketidakinginan sedang menghinggapi.

Meskipun sebenarnya banyak yang ingin ditulis dan dishare dalam laman ini, tetapi sulitnya mengkonversikan ide – ide ke dalam bentuk narasi tadi. Mungkin bisa jadi adanya degradasi kualitas baik dalam hal semangat ataupun minat untuk menulis. Namun, ternyata setelah tidak terbiasa lagi untuk menulis seperti dulu (termasuk di media lain selain blog), hal itu dirasa mengikis kemampuan verbal saya terhadap fenomena – fenomena yang ada di masyarakat, bangsa, negara, ataupun dunia internasional. Oleh karena itu, ternyata menulis merupakan suatu bentuk latihan yang tidak harus kita tinggalkan sebenarnya, manakala kita termasuk tipe orang yang senang berpikir dan mengomentari fenomena yang terjadi disekitar kita.

Maka pantaslah mengapa pemimpin – pemimpin dan orang – orang besar masa lalu banyak membuat tulisan – tulisan baik seperti puisi, artikel, bahkan buku ataupun kitab. Selain karena untuk menyalurkan hasrat untuk terus berkontribusi lewat tulisan, juga untuk menuangkan gagasan – gagasan besar lewat tulisan. Lewat tulisan – tulisan tadilah mereka menyebarkan semangat idealisme yang populer dimasanya, lewat tulisan – tulisan tadi lah revolusi – revolusi terjadi hampir di setiap pojok dunia, dan lewat tulisan – tulisan tadi lah mereka mengabadikan gagasan sehingga gagasan mereka tidak terhenti hanya dalam satu generasi, melainkan lintas generasi. Kita tahu bagaimana karya seperti das capital, marxisme, contract social, pure theory of law, bahkan sampai dibawah bendera revolusi mampu menjadi karya yang dipelajari bahkan dikembangkan oleh manusia lintas generasi, menginspirasi para generasi – generasi pemuda yang tidak hanya dijamannya, tetapi juga di jaman – jaman sesudahnya.

Oleh karena itu, menulis merupakan manifestasi dari kumpulan gagasan yang harus dituangkan, karena bisa jadi dalam gagasan yang kita konversikan dalam bemtuk narasi tadi ada yang merupakan hak dari lingkungan sosial yang ada disekitar kita. Maka, ingin rasanya kembali aktif “bernarasi” dalam laman ini, semoga dapat mengembalikan hasrat untuk berkarya dalam tulisan, karena seorang retoris yang ulung itu juga didukung oleh keahliannya untuk pandai menyusun kata dalam bentu narasi. Mari kembali menulis!!

Refleksi Sebuah Proyek Peradaban

Sebuah gerakan yang bebasiskan para Pemuda, tentu harus memiliki sebuah proyek peradaban. Proyek peradaban itu tergantung dari tujuan yang ingin dicapai tentunya. Seorang pemuda tentu memiliki sebuah proyek peradaban sesuai dengan imajinasi cita – citanya, tapi belum tentu dia memiliki kekuatan untuk mengejawantahkan semua imajinasinya tersebut dalam suatu bentuk yang sistematis yang kita sebut dengan sebuah gerakan. Oleh karena itu, diawal saya menggunakan istilah “basis” pemuda, karena hari ini waktunya pemuda yang menjadi sebuah mesin yang terus bekerja. Istilah basis disini bisa disesuaikan dengan perumpamaan kita hari ini, bisa dalam lingkup kampus yang kita kenal dengan organisasi mahasiswa, ataupun dalam lingkup sebuah negara.

Banyak pemuda tentulah akan menghasilkan sebuah kolektifitas imajinasi yang akan bermuara pada kerangka berpikir dari sebuah proyek peradaban. Sehingga pemikiran satu pemuda bergabung menjadi pemikiran kolektif para pemuda, dan semangat satu pemuda, bercampur menjadi semangat kolektif para pemuda. Maka dari itu, proyek peradaban itu harus dipikirkan secara kolektif dan juga komprehensif sesuai dengan waktunya, ada yang berorientasi pada jangka pendek, dan ada yang berorientasi pada jangka panjang.

Orientasi jangka pendek ini memerlukan kemampuan kreativitas kita untuk bagaimana dapat menciptakan sebuah dasar pijakan yang kuat menuju kepada tahapan – tahapan selanjutnya sehingga tahapan itu mencapai kepada tahapan orientasi jangka panjang kita. Dan tahapan – tahapan yang berorientasi kepada jangka panjang inilah yang harus mampu menjawab problematika umat sehingga program dan langkah – langkah yang diambil oleh sebuah gerakan menghasilkan kebermanfaatan luas untuk umat.

Dalam membangun sebuah peradaban, paling tidak ada empat tahap yang harus dilakukan supaya peradaban yang terbangun nantinya merupakan peradaban yang kuat dan mengakar. Tahap pertama adalah membangun dan memperkokoh gerakan yang sudah ada. Gerakan yang dibangun ini haruslah gerakan yang solid dan kokoh sehingga gerakan inilah yang akan menjadi kekuatan utama dalam mengambil langkah – langkah menuju sebuah peradaban yang besar. Gerakan ini merupakan tulang punggung perjuangan dalam mewujudkan tujuan besar yang telah disepakati sebelumnya sehingga dalam prosesnya, langkah demi langkah berjalan dengan sistematis, tentunya dengan dibalut oleh gagasan – gagasan sebagai warna – warni dalam menyongsong sebuah peradaban. Oleh karena tahap yang pertama ini merupakan tahap yang sangat vital, maka pada tahap ini juga, proses tersebut harus diisi oleh orang – orang yang kompeten dan berkarakter kuat. Untuk itu, dalam perjalanannya, sistem kaderisasi yang sistematis dan terus – menerus juga harus dibangun untuk menjaga eksistensi gerakan ini di masa depan.

Kedua, membangun jaringan secara horizontal sehingga sebuah gerakan itu memiliki basis massa. Basis massa diperlukan untuk menjaga supaya gerakan yang sudah ada dapat lebih mengakar di masyarakat sehingga terbentuklah simpul – simpul massa yang loyal. Di fase membangun jaringan inilah sebuah gerakan harus bisa membangun opini publik dan juga mempertahankan elektabilitas dihadapan publik. Gerakan yang dibangun atas dasar kepercayaan prinsip akan melahirkan sebuah kepercayaan massa. Karena sebuah kepercayaan prinsip lebih luas dibandingkan kepercayaan tokoh. Kepercayaan kepada seseorang yang ditokohkan dapat lebih resisten dibandingkan dengan kepercayaan terhadap sebuah prinsip. Hal tersebut dikarenakan bisa jadi di kemudian hari orang yang ditokohkan tersebut membuat kesalahan sehingga berakibat kepada sebuah gerakan. Sedangkan gerakan yang berlandaskan pada prinsip atau sistem cenderung dapat lebih bertahan lama terhadap resistensi yang ada, karena prinsip atau sistem yang ada merupakan sarana utama dalam menjalankan sebuah gerakan terlepas dari orang – orang didalamnya. Maka dari itu, gerakan yang akan lebih lama bertahan adalah gerakan yang berlandaskan pada suatu sistem sehingga dapat melahirkan gerakan – gerakan kultural di masyarakat.

Ketiga, mengembangkan gerakan tersebut untuk dapat masuk dalam institusi – institusi yang ada, sehingga gerakan ini tidak hanya bersifat horizontal, tapi juga vertikal. Hal tersebut diperlukan supaya nilai – nilai gerakan ini dapat memberikan warna terhadap institusi – institusi yang sudah terlebih dahulu ada, namun bukan untuk menghapus nilai – nilai yang sudah lama tertanam di dalam institusi – institusi tersebut karena gerakan yang baik itu layaknya tidak menjajah gerakan yang sudah ada. Gerakan yang besar adalah gerakan yang bersifat eksklusif terhadap nilai – nilai yang ada dan berkembang di masyarakat namun tetap mempertahankan prinsip dari gerakan tersebut. Kita mengenal tentang proses akulturasi yang mungkin dengan proses tersebut dapat mengembangkan layar dari gerakan yang dibangun namun tetap menjaga hal – hal yang bersifat prinsip. Fase ini memang menuntut kita untuk lebih mengembangkan keahlian berpikir dan diplomasi kita dibanding harus mengedepankan sebuah perdebatan panjang.

Keempat, sebuah proyek peradaban dirasa kurang lengkap kalau pada ahirnya tidak menyentuh tatanan yang paling tinggi, yaitu negara. Jika kita sudah memantaskan diri di tataran kelompok, masyarakat, dan institusi bukan tidak mungkin kalau gerakan yang dibangun merupakan gerakan impian dari sebuah negara. Namun hal ini pun harus berbanding dengan kepantasan diri kita sebagai pribadi, kelompok dan juga kesiapan masyarakat luas. Karena semua proses tahapan ini merupakan hal yang terintegrasi, bukan berarti ketika kita memutuskan untuk maju ke tahap yang lebih tinggi maka tahapan sebelumnya kita tinggalkan. Semuanya tetap terlaksana dari tahap yang paling awal sampai ke tahapan yang menjurus pada tujuan. Oleh karenanya kita harus dapat melihat kesiapan faktor eksternal untuk menerima nilai gerakan kita. Jika memang fase selanjutnya dirasa belum siap untuk menerima kehadiran nilai gerakan ini, bukan tidak mungkin ada satu fase yang berlangsung lebih lama karena kesiapan mental baik internal maupun eksternal merupakan modal awal dalam menentukan melangkah atau bertahannya tahapan dari sebuah proyek peradaban.

SEJARAH

Keberadaan kita hari ini sebagai seorang pemuda, tidak lain adalah karena keberadaan kita pada masa – masa yang telah lalu yang kita sebut sebagai sejarah pribadi kita. Kita juga yakin bahwa eksistensi kita hari ini sebagai seorang pemuda, adalah karena hasil akumulasi dari perjuangan – perjuangan para pemuda yang ada di masa lalu. Karena sejatinya, mereka yang dahulu pernah muda, akan datang masanya menjadi tua, dan begitulah kehidupan yang terus berputar dan berjalan sehingga bisa kita sebut bahwa sejarah adalah merupakan saksi sebuah estafeta perjuangan.

Layaknya fase – fase yang akan kita jalani sebagai bagian dari tugas kita sebagai seorang pemuda, maka fase – fase kita yang telah lalu merupakan modal awal kita untuk melangkah ke fase berikutnya. Bagaimana tidak? Karena ketika kita bicara tentang sejarah, sejarah tidak serta merta tercorehkan hanya karena ada satu orang yang dengan sendirinya mengukir sebuah karya sehingga karya itu bisa dirasakan oleh generasi – generasi selanjutnya. Seorang yang menjadi pahlawan juga tidak dengan sendirinya dikenal oleh generasi – generasi setelahnya jika namanya tidak tercatat dalam lintasan sejarah.

Satu hal yang harus kita pahami, bahwa dalam upaya membentuk sejarah sehingga sejarah mengharumkan generasi muda adalah bahwa jangan pernah menyangka mereka yang tersejarahkan meraih prestasi – prestasinya dengan mulus, atau bahkan tidak pernah mengenal kata gagal. Kita belajar dari sejarah bahwa mereka – mereka yang namanya terukir dalam lintasan sejarah pernah mengalami pasang surut perjuangan, dan sejarah merekam perjuangan mereka semua.

Kita tahu bagaimana Muhammad Al-Fatih, seorang pemuda berusia 23 tahun yang menaklukan konstantinopel, pusat kekuasaan Imperium Romawi kala itu yang merupakan mimpi delapan abad dari kaum muslimin tidak serta merta meraih kemenangannya. Dia pernah gagal beberapa kali dalam melakukan serangannya, bahkan dia juga pernah gagal sebagai pemimpin negara ketika pada usia 16 tahun ayahnya menyerahkan kekuasaan kepadanya.

Dalam sejarah Amerika kita juga akan menemui perjuangan seorang Abraham Licoln, seorang yang gagal dalam bisnis pada tahun 1831 dan pada tahun 1833, gagal menjadi anggota kongres Amerika tahun 1843, gagal menjadi anggota senat pada tahun 1855 dan pada tahun 1858, namun kemudian ia dilantik pada tahun 1860 menjadi presiden Amerika yang ke-16 dan menjadi seorang presiden yang sukses dalam sejarah Amerika.

Begitulah tekad mereka – mereka yang tersejarahkan sehingga mereka melampaui kegagalan, bahkan tekad mereka berlari lebih cepat dari kemampuan berpikir mereka. Mereka meyakini bahwa kehilangan sebuah ide itu tidak lebih berbahaya dari pada kehilangan sebuah tekad. Sejarah telah banyak memberikan kita pelajaran tentang bagaimana kita belajar mengenai sebuah tekad dari sejarah. Karena sejarah adalah madrasah bagi mereka – mereka yang ingin mengukir sebuah perjalanan dengan tinta yang kita sebut dengan tinta sejarah.

Kedua, adalah tentang semangat belajar yang harus dimiliki para pemuda untuk dapat mengukir sebuah sejarah. Sejarah tidak ditulis oleh satu orang, tapi sejarah ditulis karena akumulasi dari banyak orang. Mereka yang mampu menciptakan momentum sejarah adalah mereka yang menghampiri orang – orang untuk mendapatkan banyak nasihat sejarah. Kita harus sadar bahwa kita adalah orang yang berusaha memberikan sebuah kemanfaatan dari sejarah supaya sejarah dapat mengajarkan perjuangan kita saat ini kepada generasi – generasi selanjutnya karena waktu kita terbatas. Oleh karena itu kita juga harus sadar bahwa kita adalah manusia biasa dan kita harus juga sadar bahwa hakikat dari manusia adalah makhluk pembelajar.

Ketiga, karena kita yakin waktu kita terbatas, maka kita harus percaya pada waktu. Kita yakin setiap kejadian atau peristiwa punya waktunya masing – masing, begitupun kemenangan. Kemenangan pun ada waktunya, kita tidak tahu bagaimana waktu merahasiakan waktunya dari kita, tapi yang jelas kita harus berusaha menjadi bagian dari rahasia waktu itu. Bila kemenangan itu terjadi setelah waktu kita selesai maka paling tidak kita telah menjadi bagian dari proses kemenangan tersebut. itulah yang dimaksud dengan akumulasi perjuangan yang berujung kepada tersejarahkan.

Berangkat dari sejarah kita sebagai seorang pemuda, maka kita harus bersiap untuk mengambil bagian kita dalam membangun bangsa ini sehingga pada akhir nanti tercipta keyakinan bahwa kita berawal dari sejarah dan juga akan berakhir dengan sejarah yang terukir. ~ HSS ~

Pancasila (Masih) Pemersatu Bangsa

Pancasila-Garuda-Pancasila-jpeg.image_

Pancasila adalah suatu faham filsafat yang juga dikenal sebagai philosophical way of thinking. Dalam struktur hukum di Indonesia, Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum yang artinya segala perundang – undangan di negara Indonesia ini harus berdasarkan dan mengacu kepada Pancasila. Jika dikaitkan dengan teori Hans Kelsen, Pancasila merupakan Grund Norm atau norma dasar dari struktur hukum. Oleh karena itu sebagai suatu dasar filosofi, Pancasila memegang peranan penting dalam pembentukan mental dan character building bangsa Indonesia, baik yang dilakukan dalam suatu unit besar dalam lingkup bangsa dan negara sampai dalam satuan unit terkecil seperti keluarga hingga masyarakat.

Perlu diketahui bahwa istilah Pancasila ini telah ada sejak zaman Majapahit pada abad XIV yang terdapat dalam buku Negarakertagama karangan Mpu Prapanca dan buku Sutasoma karangan Mpu Tantular. Pancasila ini diusulkan oleh Soekarno untuk menjadi dasar negara Indonesia pada tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI () yang kemudian diterima dan disahkan oleh PPKI () pada tanggal 18 Agustus 1945 bersamaan dengan disahkannya UUD 1945. Disepakati bahwa Pancasila terdiri dari 5 sila yang sama – sama telah kita ketahui bersama yang masing – masing memiliki hakikat  yang berlaku.

1.    Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila pertama merupakan hal yang paling berdasar dalam hal berbeda agama. Hal ini juga melahirkan toleransi antar umat beragama. Sila ini pada dasarnya menegaskan bahwa dasar dari Republik Indonesia adalah berdasarkan monotheisme, bukan politheisme. Dalam konstitusi bangsa Indonesia juga hal ini dijamin dalam pasal 29 ayat 1 Undang – Undang Dasar 1945.

2.    Hakikat Kemanusiaan yang adil dan beradab

Sila ini sebagai dasar negara yang mengandung pengertian bahwa baik rakyat maupun pemerintah wajib mendasarkan segala tindakan – tindakannya atas dasar oleh dan ditunjukkan untuk menegakkan nilai – nilai kemanusiaan yang luhur dan dengan menjaga moral yang luhur pula sehingga membentuk karakter bangsa Indonesia yang berkeadilan dan beradab.

3.    Hakikat Persatuan Indonesia

Sila ini menegaskan bahwa persatuan bangsa Indonesia harus diletakkan sebagai tujuan bangsa. Negara Indonesia harus menganut konsep negara persatuan, oleh karena itu bentuk negara Indonesia adalah negara kesatuan. Kemerdekaan negara indonesia harus diisi oleh segenap lapisan rakyat sehingga tidak lagi bergantung pada pihak asing, sehingga cita dan tujuan negara Indonesia adalah untuk segenap lapisan rakyat.

4.    Hakikat Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Khitmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan

Sila ini menuntun kita atas kesadaran bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar dalam kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu konsep perwakilan yang disinergikan dengan konsep musyawarah diyakini dapat mengakomodir gagasan – gagasan bangsa yang datang dari segala penjuru daerah untuk lebih efektif dan juga efisien dalam memfasilitasi segenap rakyat yang ingin membangun bangsa ini.

5.    Hakikat Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Bangsa ini dapat terbebas dari penjajahan setelah bangsa ini mampu menjadikan jiwa nasionalisme diatas hal – hal primoldialisme yang pernah mengakibatkan bangsa ini tidak bersatu, sehingga lahirnya bangsa Indonesia merupakan jaminan atas kepentingan segenap rakyat, bukan kepentingan kelompok. Jadi, dasar keadilan sosial merupakan hak untuk dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Di era globalisasi ini, sebagai sebuah bangsa yang mandiri kita dituntut untuk dapat bertahan ditengah ancaman globalisasi yang ada baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung yang tanpa kita sadari dapat mendangkalkan idealisme kita sebagai suatu bangsa yang berlandaskan Pancasila. Permasalahan yang harus dicarikan solusinya adalah bagaimana supaya Pancasila tetap bisa diamalkan karena konsep Pancasila pada dasarnya adalah konsep pemersatu bangsa. Diantara perbedaan agama, suku dan budaya, bahkan sampai perbedaan dalam hal berpendapat, Pancasila sudah memiliki peranan dan solusi untuk tetap menjaga bangsa ini tetap bersatu diatas kehidupan yang diwarnai semangat globalisasi dan juga multikultural seperti saat ini. Mengamalkan Pancasila berarti menyelamatkan, mempertahankan dan menegakan Pancasila itu sendiri supaya tidak diubah, dihapus, atau diganti dengan semangat lain yang dapat memecah belah bangsa ini. Mengamalkan Pancasila berarti pada hakikatnya mengamankan kesatuan negara karena Pancasila dibangun dengan semangat persatuan dan semangat kemerdekaan.

Mengamalkan Pancasila berarti kita berupaya untuk menghancurkan sekat – sekat kecil yang kita sebut dengan perbedaan. Hal ini dikarenakan Pancasila memiliki solusi atas perbedaan – perbedaan yang ada dan bersifat fundamental di Indonesia ini. Dalam menjawab perbedaan agama yang dalam hal ini merupakan hal yang sensitif bagi bangsa ini, Pancasila memiliki konsep yang kita sebut dengan konsep toleransi beragama, dimana tiap warga negara dijamin UUD 1945 untuk menganut agama dan melaksanakan ibadahnya sesuai dengan perintah agamanya masing – masing. Kemudian dalam menjawab perbedaan suku dan budaya di Indonesia yang kaya akan suku dan budayanya yang beragam, Pancasila memiliki konsep yang kita kenal dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti meski berbeda – beda tapi tetap satu jua. Semangat semboyan tersebut mengesampingkan rasa primoldialisme dan menempatkan kepentingan nasional diatas kepentingan golongan sehingga bangsa ini tidak dibuat pecah karena persoalan perbedaan suku. Kemudian dalam menjawab persoalan perbedaan berpendapat, bangsa ini sadar atas sumber daya manusia yang kaya akan gagasan dan ide – ide nya, oleh karena itu Pancasila menawarkan konsep musyawarah yang mufakat, sebuah konsep yang menjadikan kepentingan bersama diatas kepentingan golongan dan atas kesadaran banwa setiap lini masyarakat memiliki hak untuk ikut serta dalam membangun bangsa Indonesia ini.

Dari konsep – konsep yang ada tersebut, Pancasila mampu menjawab tantangan globalisasi dan multikultalarisme yang ada di Indonesia. Karena hari ini, satu – satunya tantangan di Indonesia yang sangat fundamental menurut saya adalah tantangan yang kita sebut dengan perbedaan. Kita sadar bahwa bangsa ini merupakan bangsa yang besar. Semakin besar sebuah bangsa maka akan semakin besar perbedaan yang timbul. Oleh karenanya Pancasila diharapkan dapat meminimalisir perbedaan yang ada dan dengan solusi – solusi yang ditawarkan dalam konsep Pancasila, diharapkan bangsa ini tidak lagi terpecah belah oleh karena adanya perbedaan, tidak lagi dibuat ribut oleh kepentingan kelompok antar yang satu dengan yang lainnya, karena sesungguhnya kita ada dalam lingkup kepentingan nasional atau kepentingan negara. Kalaulah setiap kelompok memiliki kepentingannya masing – masing untuk memajukan dan mensejahterakan kelompoknya masing – masing, maka ketika kita berbicara tentang Indonesia, marilah kita bicara atas dasar semangat Pancasila yang ada dalam idealisme kita, kita kolaborasikan kepentingan – kepentingan kelompok yang ada, untuk kita mencapai satu tujuan, yang kita sebut dengan PERSATUAN INDONESIA!!

lomba blog pusaka indonesia 2013

Palestina dan Status Barunya Menurut Hukum Internasional

Palestina memiliki status baru dan diakuinya sebagai sebuah negara yang berdaulat pada tanggal 29 November 2012 kemarin. Palestina diakui sebagai sebuah negara dalam sidang Majelis Umum (MU) PBB di New York lewat mekanisme voting. Status Palestina yang meningkat dari sebuah Badan Pengamat Non Anggota PBB menjadi Negara pengamat Non Anggota PBB. Artinya dari sebuah badan yang kemudian diakui menjadi sebuah negara menjadikan Palestina hari ini memiliki posisi tawar yang bagus didunia Internasional dalam menentukan nasibnya.  Dalam Sidang MU PBB tersebut, Palestina memperoleh 138 suara dukungan termasuk didalamnya Indonesia, 9 negara menolak status Palestina termasuk didalamnya Amerika Serikat dan tentunya Israel,  Kanada, Republik Ceko, Panama, Kep Marshall, Mikronesia, Nauru & Palau, dan 41 negara anggota lainnya memilih untuk Abstain.

Palestina yang selama ini bertahan hidup dibawah bayang – bayang pendudukan Israel, meskipun mendapat banyak rintangan yang besar, rakyat Palestina telah membangun dan memiliki kemampuan untuk berperan sebagai sebuah negara dan untuk diakui oleh dunia Internasional. Maka bagi saya keputusan yang dihasilkan oleh PBB dalam sidang Majelis Umumnya sudah tepat mengingat selama ini usaha – usaha yang dilakukan oleh Palestina selalu mendapat sandungan dari salah satu negara anggota tetap Dewan keamanan (sebut saja AS). Keputusan yang dihasilkan untuk meningkatkan keanggotaan Palestina sebagai negara non anggota juga merupakan nilai filosofis dari UN Charter  yang ingin menghapuskan penjajahan dari muka bumi ini dengan menyeleseikan segala sengketanya dengan cara – cara yang damai dan menghindari tindakan kekerasan dan perang. Setiap warga Palestina tentunya memiliki hak – hak sipil dan politik yang tercantum dalam International Covenant on Civil and Political Right (ICCPR) untuk dapat mempertahankan hidup dengan damai, damai dan sejahtera.

Dengan ditingkatkannya status Palestina sebagai negara non anggota, maka Palestina memiliki posisi tawar yang lbih baik saat ini. Pengesahan ini juga menjadi simbol politik yang sangat penting dalam diplomasi, bahwa tidak selamanya dominasi negara adidaya dapat mendominasi peran diplomasi yang sudah mulai gerah dengan kondisi yang terjadi di Palestina. Meskipun hingga keputusan ditetapkan, baik AS dan juga Israel tetap bersikeras tidak menerima Palestina di PBBDengan statusnya sekarang, maka Palestina memiliki level diplomatik yang sama dengan Vatikan. Selain itu, Palestina memiliki akses untuk berhubungan dengan organisasi – organisasi Internasional seperti UNICEF, mahkamah internasional, dan juga yang lainnya. Artinya Palestina dapat menjadi anggota dari organisasi Internasional yang dapat menentukan nasibnya baik di bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Palestina dengan statusnya sekarang juga dapat mengajukan tuntutan kepada Mahkamah Pidana Internasional untuk memutuskan Israel sebagai penjahat Internasional atas pendudukan yang dilakukannya kepada Palestina. Hal tersebut dikarenakan Palestina sudah menjadi Subjek Hukum Internasional yang hak dan kewajibannya dijamin oleh Hukum Internasional.

 

palestina-pbb121129c

Indonesia dan Kedewasaan berpolitik

         Beberapa waktu yang lalu saya sempat pergi ke luar pulau jawa untuk pertama kalinya dalam rangka menghadiri undangan musyawarah nasional sebuah forum nasional. Tentunya saya tidak sendiri dan ditemani seorang kawan yang sebelumnya pernah mengikuti forum tersebut. Namun dalam tulisan kali ini saya tidak akan berbicara tentang kondisi dan pengalaman pertama saya terbang ataupun keluar pulau jawa😀, tapi saya akan berbicara tentang pengalaman saya berinteraksi dengan orang – orang indonesia dari belahan daerah lainnya yang setelah bersosialisasi dengan mereka saya mulai paham tentang peta pembangunan yang tidak merata dari Indonesia hari ini.

            Kita tahu Indonesia ini lahir dari sebuah perjuangan dan perlawanan jika dilihat dari sejarahnya. Bagaimana para pahlawan – pahlawan revolusi dahulu merebut kemerdekaan dari tangan belanda yang sampai saat ini kemerdekaan itu bisa bertahan. Bangsa indonesia adalah bangsa yang terbentuk karena mental perjuangan, perjuangan merebut kemerdekaan, perjuangan membentuk sebuah negara yang berdaulat, perjuangan menentukan jati diri dan sistem sebuah negara, dan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan sampai dengan saat ini. tapi pertanyaannya, apakah hari ini sudah dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang dikatakan dewasa dengan kemerdekaan yang sudah ada di genggaman tangan? Dahulu Indonesia pernah dihadapkan dalam permasalahan perkembangan kepentingan politik yang tidak jarang menjadikan rakyatnya korban politik, bagaimana soekarno menerapkan kebijakan harga naik ketika pemerintahan orde lama mulai resistan karena dualisme antara PKI dan Militer, bagaimana soeharto juga menerapkan politik represif bagi orang – orang yang sangat mengkritik pemerintah, dan bagaimana pemerintahan – pemerintahan setelahnya menerapkan kebijakan politik – politik lainnya yang tidak kalah menyita dan merekayasa perhatian masyarakat untuk tidak perduli terhadap kekuasaan yang berkuasa, tapi untuk lebih perduli hanya terhadap diri sendiri.

            Pasca reformasi bergulir pada tahun 1998, Politik indonesia mengalami reformasi besar – besaran dampak dari turunnya rezim represif orde baru dan dihapuskannya dwifungsi ABRI pada saat itu, sehingga Indonesia menerapkan sistem demokrasi Pancasila yang sampai saat ini masih dianut dan diklaim sebagai sistem demokrasi yang paling ideal diterapkan di indonesia. kebebasan berpendapat dan berkespresi dibuka selebar – lebarnya tanpa adanya batasan – batasan yang jelas meskipun doktrin hak asasi seseorang sebenarnya dibatasi oleh hak asasi orang lain. Ditambah masuknya doktrin – doktrin asing yang datang dari luar masuk ke dalam bangsa tanpa adanya saringan yang jelas terhadap doktrin yang masuk tersebut sehingga membentuk mental bangsa Indonesia saat ini mental inlender atau mental tidak bangga terhadap bangsa sendiri. Sesuatu yang bersifat unik, janggal, dan tabu serta keluar dari jati diri bangsa menjadi suatu hal yang menarik. Hari ini bersalaman antar sesama sudah tidak lagi menjadi suatu hal yang membanggakan sebagaimana jaman tahun 80 – 90 an dulu. Hari ini tawuran, penjarahan, anarkisme dan kekerasan baru dianggap sebagai suatu hal yang keren dan maju. Nilai – nilai akademis berbasis data, objektif dan negarawan masih gagal diterapkan, tapi nilai – nilai subjektif, korup, dan anarkis merupakan paham yang sukses di gunakan di indonesia hari ini.

            Kenapa saya menulis sebagaimana hal diatas? Kembali ke cerita saya diawal tadi. Bahwa ternyata kedewasaan berpolitik masih belum mencapai taraf yang semestinya dimiliki bagi suatu negara yang menganut sistem welfare seperti indonesia. Kedewasaaan berpolitik masih sebagai wacana dan belum dapat diterapkan dengan baik. Hal itu diindikasikan ketika forum yang saya ikuti dimulai ternyata tidak berjalan lama forum tersebut ricuh dan tidak sehat. Terbukti dari adanya beberapa anggota forum yang tidak menggunakan etika berpendapat dan bersuara. Mengolok – olok pimpinan forum, bahkan tidak menggunakan etika seorang mahasiswa. Bahkan lucunya, menurut cerita dari kawan saya pernah ada yang berteriak di forum tersebut dan dengan bangganya menyebutkan bahwa dia pernah berdemo dengan membakar ban dan memblok jalan. Dan yang tidak kalah membuat saya terkejut adalah bahwa ada beberapa mahasiswa yang selalu membawa pisau kecil kalau – kalau ada yang mengancam dirinya. Hal ini lah yang pada akhirnya saya ambil kesimpulan bahwa gaya politik bebas dan mental masyarakat di Indonesia tidak sedewasa sistemnya. Mungkin sistem yang dibuat sudah baik dan ideal, namun para oenggerak sistem – sistem tersebut belum siap dengan sistem yang dibuat. Ditambah sebelumnya juga diberitakan tentang tawuran mahasiswa di makasar. Belum lagi baru – baru ini saya mendengar bahwa debat calon kandidat Presiden dan wakil presiden di kampus saya agak sedikit berwarna kali ini. Bagaimana tidak? Konon katanya para kandidat yang sedang berada di atas panggung dilempari telur ayam oleh beberapa oknum mahasiswa yang berada di bawah panggung. Ini lah yang saya sebut dengan gaya politik bar – bar. Gaya politik yang didasarkan pada gerakan anarkisme dan keras.

            Beberapa contoh – contoh diatas yang membuat saya berpikir apa sebenarnya yang salah dari bangsa ini, apakah karena semangat perjuangan dan perlawanan masih belum padam? Iya, tapi ini sudah bukan jaman penjajahan lagi kawan, ini juga sudah bukan zaman reformasi, ini zaman mempertahankan kemerdekaan, kita sudah tidak butuh lagi kekerasan dan anarkisme kawan, kita tidak lagi butuh perang urat untuk menjatuhkan satu sama lain. Yang kita butuhkan hanyal melangkah bersama. Kita juga sudah tidak lagi dalam keadaan perebutan kekuasaan sebagaimana zaman orde lama yang sarat dengan kekuasaan.

            Indonesia adalah bangsa yang besar karena sejarah – sejarahnya oleh karena itu bung karno menggagas “jas merah”. Jika dahulu idealisme bisa bertenggang rasa untuk merebut kemerdekaan mengapa sekarang tidak? Jika dahulu apatisme terhadap penjajahan bisa menyatukan perbedaan maka mengapa hari ini apatisme justru ditanamkan dalam sebuah tindakan yang tidak menyenangkan? Bukankah ini sudah kemerdekaan. Lantas mengapa secara moral kita mengalami degradasi. Apakah karena saking kentalnya motif primordialisme diantara kita. Agama, suku, gender, dsb bukankah itu merupakan warna dari sebuah perbedaan yang harusnya dapat menyatukan kita menuju kepada bangsa yang lebih bermartabat di mata dunia.

            Kawan.. kita adalah generasi muda yang akan menentukan wajah Indonesia di masa depan. Tersenyum atau menjadikannya sedih tergantung kita akan membawa bangsa ini kemana. Pemuda adalah Iron Stock sebuah bangsa. Maka sudah seharusnya kita tidak lagi disibukkan karena masalah “apa” dan “siapa”. Tapi seharusnya kita sudah disibukkan dengan permasalahan “kenapa” dan “bagaimana”. Semoga bisa menjadi renungan bagi kita generasi masa depan bangsa. J