estafeta perjuangan itu bernama “kaderisasi”

kaderisasi itu ibarat kayu bakar, karena ada saat – saat dimana kayu yang telah lama tadi berubah menjadi abu sehingga api yang menyalanya pun akan menadi redup, dan disanalah dibutuhkan kayu – kayu yang baru yang digunakan untuk membuat nyala api tadi kembali menjadi terang dan benderang.

Demikianlah pengibaratan kaderisasi yang digambarkan seperti kayu bakar. kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam. (bung hatta, kaderisasi dalam kerangka kebangsaan). kaderisasi juga berarti menyiapkan generasi – generasi penerus untuk meneruskan estafeta perjuangan supaya perjuangan yang dimaksud tidaklah putus ditengah suatu generasi, melainkan bersifat berkelanjutan dan berkesinambungan. yang dimaksud dengan perjuangan berkelanjutan adalah perjuangan yang dilakukan secara terus – menerus oleh orang – orang yang memiliki satu visi dan satu tujuan. sedangkan yang dimaksud dengan perjuangan yang berkesinambungan adalah perjuangan yang sifatnya sistematis unuk mencapai tujuan besar di kemudian hari. oleh karenanya suatu perjuangan haruslah memiliki mapping dan tujuan besar yang telah ditentukan di kemudian hari supaya tongkat kaderisasi pun bisa berjalan dengan cukup baik.

dalam konteks kemahasiswaan atau kekampusan, kaderisasi menjadi suatu hal yang sangat penting. mengapa demikian? hal ini disebabkan perjuangan dalam konteks kemahasiswaan haruslah memiliki kedua sifat tadi (berkelanjutan dan berkesinambungan) mengingat orang – orang dalam perjuangan mahasiswa tadi memilik jangka waktu dikampus. dengan kata lain, seorang mahasiswa hanya memiliki jangka waktu dikampus sekitar 4 atau sampai 7 tahun. oleh karenanya kaderisasi di kampus haruslah diperhatikan secara seksama untuk menyiapkan generasi – generasi penerus yang akan tetap menyuarakan aspirasi masyarakat lewat gerakan mahasiswa. Di samping itu, perlu diingat bahwa dunia kampus haruslah terus berperan sebagai barak kaderisasi. pembahasan kepemimpinan dan kaderisasi menjadi suatu hal yang urgent bilamana kita berbicara mengenai kondisi kekinian dan kedisinian indonesia. maraknya kasus korupsi dan politik praktis yang kian merajalela menjadi beban moril dunia kampus sebagai kawah kaderisasi untuk menciptakan caon – calon pemimpin indonesia di masa depan.Tidak melulu hanya menjadikan mahasiswanya sebagai produk ilmiah yang notabenenya menjadikan mahasiswanya sebagai sumber daya manusia siap kerja di sebuah perusahaan, tapi juga mulai membuat rekayasa sosial untuk menjadikan mahasiswanya sebagai calon – calon pemimpin bangsa masa depan lewat mekanisme dan sistem kaderisasi secara konseptual dan sistematis. oleh karena itu, Kaderisasi adalah sebuah keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang mandiri dan berkelanjutan.

dalam membangun kaderisasi yang bersifat konseptual dan sistematis, maka perlu dibuat pola – pola kaderisasi yang digunakan sebagai rujukan sebuah estafeta perjuangan dalam pergerakan kekampusan. pola – pola kaderisasi yang kanseptual dan sistematis tadi diharapkan akan menciptakan manusia – manusia unggul, dan manusia – manusia unggul tadi niscaya akan terus memperbaiki pola tadi dengan harapan akan menciptakan manusia yang lebih unggul di kemudian hari layaknya rantai kaderisasi yang terus menerus menuju ke arah perbaikan perjuangan. berikut analisis pribadi saya terhadap beberapa pola – pola kaderisasi yang secara umum yang ada dalam konteks kekampusan, diantaranya:

A. pengenalan

pola yang pertama kali harus diberlakukan adalah pola pengenalan organisasi atau perjuangan kampus. mengapa? karena bagaimana mungkin seorang individu yang menjadi obyek kaderisasi memperjuangkan idealismenya tanpa ia kenal betul idealisme yang diperjuangkannya. Alhasil ia akan mudah goyah dikemudian hari bilamana apa yang ia yakini ditabrakkan dengan keyakinan lainnya. pengenalan organisasi ini penting karena ini akan menjadikan alasan kenapa ia harus berjuang dan memajukan organisasi tersebut selain juga pastinya membangun kepercayaan dirinya terhadap keberadaan dirinya di organisasi tersebut.

B. Pembelajaran
setelah obyek kaderisasi tadi mengenal organisasinya, maka yang berikutnya adalah bagaimana pelaku pembinaan memberikan kesempatan dan memfasilitasi obyek kaderisasi tadi untuk lebih belajar mengenai organisasinya. proses pembelajaran disini salah satu bentuknya, seperti misalnya membentuk mereka menjadi kelompok – kelompok mentoring yang dalam kelompok itu berjumlah antara 5 sampai 10 orang dengan satu orang yang menjadi pementornya dengan menggunakan metode dialektika untuk lebih mendekatkan diri dengan orang – orang yang ada dalam kelompok mentoring tersebut. mengapa metode dialektika? saya berpendapat bahwa metode ini adalah metode yang paling efektif karena kedekatan psikologis akan menjadi satu faktor dalam mekanisme kaderisasi. bukan lagi dengan cara konvensional yang terlalu menimbulkan sekat – sekat antara senior dengan juniornya.

C. Pelibatan

setelah seorang individu tadi mengenal seluk – beluk organisasinya dan belajar mencari tahu apa yang ada disekitarnya, maka yang berikutnya yang harus diperhatikan dalam konteks kaderisasi adalah pelibatan. hal tersebut diperlukan sebagai bentuk apresiasi terhadap orang – orang yang notabenenya baru di organisasi tersebut dan disiapkan untuk memajukan organisasi tersebut kedepannya. pola pelibatan ini menjadi sangat penting karena biasanya orang – orang yang baru mengenal saja sebuah organisasi memiliki rasa penasaran yang lebih untuk lebih mengenal dan terlibat dalam perjuangan organisasi tersebut, selain itu pola ini sebagai bentuk pengikatan dari organisasi tersebut kepada orang yang tadi menjadi obyek kaderisasi sehingga bentuk feedback antara organisasi dan obyek kaderisasi tadi memiliki hubungan yang harmonis karena orang yang menjadi obyek kadresasi tadi akan merasa dihargai dengan pelibatan yang ia dapatkan.

D. Become a Leader

setelah ketiga mekanisme tadi. maka pada ahirnya obyek kaderisasi tadi diberikan kesempatan untuk menjadi penentu – penentu kebijakan dalam organisasi. hal ini menjadi proses final dalam alur kaderisasi. pasalnya sampai disinilah proses kaderisasi yang sifatnya konseptual dan sistematis tadi. dan obyek – obyek kaderisasi tadi akan menjadi pelaku pembinaan dan mejalankan proses kaderisasi tadi untuk menyiapkan tunas – tunas penerus perjuangan organisasi tersebut.

demikian suatu buah pemikiran tentang estafeta perjuangan yang bernama kaderisasi beserta polanya dalam konteks kekampusan. sebagaimana setelah dijelaskan diatas bahwa ke empat pola kaderisasi tadi bersifat umum dan tidak menutup kemungkinan masih jauh dari kesempurnaan karena harus perlu diselaraskan dengan kondisi kekinian dan kedisinian masing – masing organisasi.

intinya,  Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena kaderisasi merupakan inti dari keberlanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis.ditambah bagi kita para pemegang otoritas sebuah organisasi saat ini, ini adalah sebuah alasan untuk tidak meninggalkan generasi lemah dibelakang kita, oleh karenanya kaderisasi menjadi suatu media untuk menciptakan generasi – generasi yang lebih tangguh dari pada kita. dan semoga kedepannya lewat pola kaderisasi kekampusan, kedepan indonesia memiliki generasi – generasi pemimpin yang memiliki mental melayani dan membuat indonesia ini lebih baik. wallahualam bishawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s