Indonesia dan Kedewasaan berpolitik

         Beberapa waktu yang lalu saya sempat pergi ke luar pulau jawa untuk pertama kalinya dalam rangka menghadiri undangan musyawarah nasional sebuah forum nasional. Tentunya saya tidak sendiri dan ditemani seorang kawan yang sebelumnya pernah mengikuti forum tersebut. Namun dalam tulisan kali ini saya tidak akan berbicara tentang kondisi dan pengalaman pertama saya terbang ataupun keluar pulau jawa :-D, tapi saya akan berbicara tentang pengalaman saya berinteraksi dengan orang – orang indonesia dari belahan daerah lainnya yang setelah bersosialisasi dengan mereka saya mulai paham tentang peta pembangunan yang tidak merata dari Indonesia hari ini.

            Kita tahu Indonesia ini lahir dari sebuah perjuangan dan perlawanan jika dilihat dari sejarahnya. Bagaimana para pahlawan – pahlawan revolusi dahulu merebut kemerdekaan dari tangan belanda yang sampai saat ini kemerdekaan itu bisa bertahan. Bangsa indonesia adalah bangsa yang terbentuk karena mental perjuangan, perjuangan merebut kemerdekaan, perjuangan membentuk sebuah negara yang berdaulat, perjuangan menentukan jati diri dan sistem sebuah negara, dan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan sampai dengan saat ini. tapi pertanyaannya, apakah hari ini sudah dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang dikatakan dewasa dengan kemerdekaan yang sudah ada di genggaman tangan? Dahulu Indonesia pernah dihadapkan dalam permasalahan perkembangan kepentingan politik yang tidak jarang menjadikan rakyatnya korban politik, bagaimana soekarno menerapkan kebijakan harga naik ketika pemerintahan orde lama mulai resistan karena dualisme antara PKI dan Militer, bagaimana soeharto juga menerapkan politik represif bagi orang – orang yang sangat mengkritik pemerintah, dan bagaimana pemerintahan – pemerintahan setelahnya menerapkan kebijakan politik – politik lainnya yang tidak kalah menyita dan merekayasa perhatian masyarakat untuk tidak perduli terhadap kekuasaan yang berkuasa, tapi untuk lebih perduli hanya terhadap diri sendiri.

            Pasca reformasi bergulir pada tahun 1998, Politik indonesia mengalami reformasi besar – besaran dampak dari turunnya rezim represif orde baru dan dihapuskannya dwifungsi ABRI pada saat itu, sehingga Indonesia menerapkan sistem demokrasi Pancasila yang sampai saat ini masih dianut dan diklaim sebagai sistem demokrasi yang paling ideal diterapkan di indonesia. kebebasan berpendapat dan berkespresi dibuka selebar – lebarnya tanpa adanya batasan – batasan yang jelas meskipun doktrin hak asasi seseorang sebenarnya dibatasi oleh hak asasi orang lain. Ditambah masuknya doktrin – doktrin asing yang datang dari luar masuk ke dalam bangsa tanpa adanya saringan yang jelas terhadap doktrin yang masuk tersebut sehingga membentuk mental bangsa Indonesia saat ini mental inlender atau mental tidak bangga terhadap bangsa sendiri. Sesuatu yang bersifat unik, janggal, dan tabu serta keluar dari jati diri bangsa menjadi suatu hal yang menarik. Hari ini bersalaman antar sesama sudah tidak lagi menjadi suatu hal yang membanggakan sebagaimana jaman tahun 80 – 90 an dulu. Hari ini tawuran, penjarahan, anarkisme dan kekerasan baru dianggap sebagai suatu hal yang keren dan maju. Nilai – nilai akademis berbasis data, objektif dan negarawan masih gagal diterapkan, tapi nilai – nilai subjektif, korup, dan anarkis merupakan paham yang sukses di gunakan di indonesia hari ini.

            Kenapa saya menulis sebagaimana hal diatas? Kembali ke cerita saya diawal tadi. Bahwa ternyata kedewasaan berpolitik masih belum mencapai taraf yang semestinya dimiliki bagi suatu negara yang menganut sistem welfare seperti indonesia. Kedewasaaan berpolitik masih sebagai wacana dan belum dapat diterapkan dengan baik. Hal itu diindikasikan ketika forum yang saya ikuti dimulai ternyata tidak berjalan lama forum tersebut ricuh dan tidak sehat. Terbukti dari adanya beberapa anggota forum yang tidak menggunakan etika berpendapat dan bersuara. Mengolok – olok pimpinan forum, bahkan tidak menggunakan etika seorang mahasiswa. Bahkan lucunya, menurut cerita dari kawan saya pernah ada yang berteriak di forum tersebut dan dengan bangganya menyebutkan bahwa dia pernah berdemo dengan membakar ban dan memblok jalan. Dan yang tidak kalah membuat saya terkejut adalah bahwa ada beberapa mahasiswa yang selalu membawa pisau kecil kalau – kalau ada yang mengancam dirinya. Hal ini lah yang pada akhirnya saya ambil kesimpulan bahwa gaya politik bebas dan mental masyarakat di Indonesia tidak sedewasa sistemnya. Mungkin sistem yang dibuat sudah baik dan ideal, namun para oenggerak sistem – sistem tersebut belum siap dengan sistem yang dibuat. Ditambah sebelumnya juga diberitakan tentang tawuran mahasiswa di makasar. Belum lagi baru – baru ini saya mendengar bahwa debat calon kandidat Presiden dan wakil presiden di kampus saya agak sedikit berwarna kali ini. Bagaimana tidak? Konon katanya para kandidat yang sedang berada di atas panggung dilempari telur ayam oleh beberapa oknum mahasiswa yang berada di bawah panggung. Ini lah yang saya sebut dengan gaya politik bar – bar. Gaya politik yang didasarkan pada gerakan anarkisme dan keras.

            Beberapa contoh – contoh diatas yang membuat saya berpikir apa sebenarnya yang salah dari bangsa ini, apakah karena semangat perjuangan dan perlawanan masih belum padam? Iya, tapi ini sudah bukan jaman penjajahan lagi kawan, ini juga sudah bukan zaman reformasi, ini zaman mempertahankan kemerdekaan, kita sudah tidak butuh lagi kekerasan dan anarkisme kawan, kita tidak lagi butuh perang urat untuk menjatuhkan satu sama lain. Yang kita butuhkan hanyal melangkah bersama. Kita juga sudah tidak lagi dalam keadaan perebutan kekuasaan sebagaimana zaman orde lama yang sarat dengan kekuasaan.

            Indonesia adalah bangsa yang besar karena sejarah – sejarahnya oleh karena itu bung karno menggagas “jas merah”. Jika dahulu idealisme bisa bertenggang rasa untuk merebut kemerdekaan mengapa sekarang tidak? Jika dahulu apatisme terhadap penjajahan bisa menyatukan perbedaan maka mengapa hari ini apatisme justru ditanamkan dalam sebuah tindakan yang tidak menyenangkan? Bukankah ini sudah kemerdekaan. Lantas mengapa secara moral kita mengalami degradasi. Apakah karena saking kentalnya motif primordialisme diantara kita. Agama, suku, gender, dsb bukankah itu merupakan warna dari sebuah perbedaan yang harusnya dapat menyatukan kita menuju kepada bangsa yang lebih bermartabat di mata dunia.

            Kawan.. kita adalah generasi muda yang akan menentukan wajah Indonesia di masa depan. Tersenyum atau menjadikannya sedih tergantung kita akan membawa bangsa ini kemana. Pemuda adalah Iron Stock sebuah bangsa. Maka sudah seharusnya kita tidak lagi disibukkan karena masalah “apa” dan “siapa”. Tapi seharusnya kita sudah disibukkan dengan permasalahan “kenapa” dan “bagaimana”. Semoga bisa menjadi renungan bagi kita generasi masa depan bangsa. J

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s