Menjadi Cerdas (Suatu Tuntutan Demokrasi)

Hari – hari kebelakang seolah Indonesia berubah menjadi tempat yang menyeramkan dan menakutkan. Bagaimana tidak, pemberitaan baik di media televisi ataupun media online berisi tentang hal – hal yang bagi generasi kita hari ini merupakan bukan hal yang wajar. Di bidang sosial, kita tahu bagaimana ada seorang anak SD yang dianiaya kawannya sampai meninggal hanya karena ia menjatuhkan makanan kakak kelasnya secara tidak sengaja, belum lagi maraknya kasus – kasus kejahatan seksual terhadap anak baik yang ada di Jakarta beberapa waktu lalu ataupun pemberitaan di Sukabumi yang sampai hari ini kasusnya masih berjalan. Terakhir adalah tindakan  intoleransi yang terjsdi di jogja.
Hari ini, khususnya di bidang politik dan kenegaraan, kita dapat melihat bagaimana dinamisasi menjelang pilpres seolah memecah cinta indonesia menjadi dua kubu, banyaknya saling sindir dan banyaknya saling menjatuhkan, dan ironisnya hal itu terjadi dalam tataran grass root yang mana kelompok grass root bisa jadi merupakan kelompok non-partisan yang opini dan pola pikirnya dibentuk oleh media. Berbeda dengan para eliters yang secara resmi memang bersaing merebut simpati rakyat, mereka terlihat saling berpelukan, saling berjabat tangan dan juga saling menebar senyum satu sama lain.
Kita hari ini dihadapkan dalam dunia yang sangat berbeda bila dibandingkan sewaktu kita kecil dulu kawan, hari ini ruang apatisme lebih dominan mewarnai pola pikir kita dibandingkan untuk turun langsung berkontribusi menjadi orang yang memelihara rasa ideal ditengah dominannya kehidupan yang pragmatis hari ini. Sering saya berdiskusi dengan kawan yang lainnya bahwa hari ini kita hidup dimana ada seorang hampir tanpa aktualisasi pancasila. Ia hidup berdasarkan gaya yang berkembang, berdasarkan idiologi yang berkembang, pancasila hanya menjadi pajangan di ruang2 kelas yang mungkin lupa dibersihkan dari debu. Teringat ketika soekarno memberikan pidato di hadapan PBB tentang inti dari ajaran pancasila. Soekarno menjelaskan bahwa sila pertama adalah tentang believe in god, kedua tentang humanity, ketiga tentang nationalism, ke empat tentang democracy, kelima adalah tentang social justice.
Dalam era demokrasi hari ini kita dituntut cerdas untu menentukan pilihan didasarkan pada asas-asas pancasila. Tidak lagi terdikotomi oleh pemberitaan media yang kadang tidak berimbang dan seolah menggiring opini pembaca. Jangan sampai demokrasi ini hanya permainan para mereka saja yang ingin berkuasa tanpa memperhatikan bangsa dan negara. Tapi jadikanlah ajang demokrasi ini sebagai ajang pencerdasan bagi kita supaya tidak hanya bergantung pada media dan opini menyesatkan semata.

Handika Suryo Syaiful, S.H.
Pascasarjana Magister Hukum

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s